Langsung ke konten utama

Active Listening dalam Pandangan Islam

 Sudah tahukah kamu apa itu mendengarkan secara aktif atau yang sering disebut Active Listening? Sudahkah kamu memperaktikannya di kehidupan sehari-hari? Dan tahukah kamu seberapa besar Active Listening ini mempengaruhi kehidupan kamu?



Dilansir dari Verywell Mind, Active Listening atau mendengarkan secara aktif adalah cara mendengarkan yang benar-benar fokus. Yaitu, dengan mendengarkan lawan bicara secara seksama dan penuh perhatian. Tidak menyela pembicaraannya dan merespon apa yang dikatakannya dengan baik dan netral.


Menjadi pendengar yang baik pun merupakan tahapan dasar dalam sebuah perilaku (attitude). Itulah mengapa Islam sangat mengedepankan adab atau kesopanan sebelum ilmu.


Rasulullah SAW adalah sosok yang senantiasa mendengarkan hingga tuntas pembicaraan orang lain tanpa pernah memotong perkataan lawan bicaranya sedikitpun. Dan hal tersebut merupakan cerminan akhlaq beliau yang sangat mulia. Dengan akhlaq mulia itulah Rasulullah telah menaklukkan hati banyak orang, sehingga bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan ajakannya.


Utbah adalah salah seorang mitra dialog yang kemudian tertarik dan terpesona dengan gaya komunikasi Rasulullah SAW. Tak heran jika teman-temannya kemudian mengatakan kepadanya bahwa Utbah telah tersihir ucapan Muhammad.


Jika dihitung, ucapan Utbah jauh lebih banyak ketimbang ucapan Rasulullah SAW. Bahkan beliau hampir tidak berkapa apa-apa kecuali sekadar membacakan beberapa ayat suci al-Qur’an. Bila berkata atau berdialog pun beliau lebih memilih kata-kata yang singkat, lugas, dan tegas. Justru dengan berhemat bicara inilah akhirnya Utbah terenyuh dan akhirnya menyerah.


Cara berdialog Beliau pun tercantum dalam sebuah hadits, 

"Bahwasanya perkataan Rasulullah SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)


Sebagai ummat Rasulullah SAW, tentu sudah seharusnya kita meniru dan mempraktekkan gaya Rasulullah dalam berdialog dan berkomunikasi. Beliau tidak ingin mendominasi pembicaraan. Sebab hal itu sama saja dengan serakah dalam urusan makan. Dan keduanya merupakan dua sikap yang dicela oleh Islam.


Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, yang benar adalah banyak mendengar sedikit berbicara. Bukankah anggota tubuh kita sudah mengisyaratkan hal itu? Bukankah Allah SWT menciptakan manusia memiliki satu mulut dan dua telinga? 


Bukankah itu bermakna bahwa perbandingan antara pembicaraan dengan pendengaran itu semestinya satu berbanding dua. Kenapa yang sering terjadi justru sebaliknya?


“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi shallallahu alaihi wasallam:“Orang-orang yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)


(nsm)




Komentar